-->

Selasa, 26 November 2013

CERPEN JIEUN'S LIFE


korean version story
Sebuah kisah fiksi karya : Ahyena Yuishioka_ 
Hak cipta milik : Yeyen Okta Kurniawati 
BERDASARKAN KISAH NYATA
arwah menangis-google-search.com for jieun's life

JIEUN’S LIFE

Satu lagi keluarga bahagia hadir ditengah-tengah dunia ini. Mereka adalah pasang bahagia Jieun dan Kamjoung, dengan kedua anak mereka Junkyung dan Hamyeon. Junkyung seorang kakak genap berumur 13 tahun tahun ini sementara adik perempuannya yang kerap disapa Hamy hanya berbeda 5 tahun darinya. Mereka adalah sebuah keluarga yang lengkap dengan dibumbui cinta disetiap harinya meski Jieun kerap kali bertindak sebagai seorang ibu yang galak untuk anak-anaknya tetapi itu dilakukannya semata-mata demi kebaikan anak-anaknya. Kamjoung hanya seorang kontraktor dengan bayaran kecil yang tentunya tidak sepadan dengan kebutuhan keluarganya, tetapi meski hidup penuh kesulitan sedikitpun Jieun tidak pernah menolak semua kesulitan itu.
Sebelumnya Jieun dan Kamjoung merupakan anak dari seorang pengusaha kaya masing-masing tetapi mereka kabur dari keluarganya yang ditak merestui hubungan mereka. Mereka hidup terasing dari semua keluarganya dan hidup dengan keluarga kecil mereka saat ini. Ada sebuah perbedaan besar pada kedua anak Jieun, Hamy memiliki sifat seperti ayahnya yang selalu lembut dan menuruti kata-katanya sementara Jun sedikit mewarisi sifat neneknya yaitu ibu dari Jieun yang tidak pernah puas dengan apapun yang didapatkannya. Ia selalu keras kepala dan ingin berkuasa atas segalanya tidak pernah peduli terhadap apapun yang terjadi bahkan Jieunpun sampai kewalahan untuk mengatur kenakalan Jun.
Hingga pada suatu hari disore yang mendung dimana awan terlihat sendu hendak berduka. Sebuah kabar dating pada Kamjoung yang sedang bekerja.
“Tuan Kamjoung?” Tanya seorang polisi menghampirinya.
Kamjoung menoleh sambil membasuh keringatnya dengan handuk kecil yang tersampir dipundak kanannya. “Iya dengan saya sendiri.” Ujarnya penasaran.
“Apa Jieun yuyoung benar merupakan istri sah anda?” Tanya sang polisi.
“Iya benar.” Jantung kamjoung semakin berdetak kencang.
“Dengan rasa belasungkawa kami melaporkan bahwa istri anda mengalami kecelakaan, dan nyawa beliau tidak bisa kami tolong lagi.” Ujar sang polisi lirih.
Sontak tubuh Kamjoung tiba-tiba membeku, ia menjadi sulit bernafas dansekelilingnyapun menjadi semakin gelap gulita. Ia tak sadarkan diri, tetapi air matanya tetap menetes meski ia tidak sadar. Ia merasa dunia ini seperti kiamat ketika Jieun tidak ada disampingnya. Satu-satunya alasan ia melakukan semua ia sampai sejauh ini adalah bisa bersama jieun, tidak pernah terfikir olehnya bahwa jieun akan pergi darinya secepat itu. Padahal masih bisa terbayang wajahnya saat itu, masih bisa tercium bau wanginya ketika ia sedang menyiapkan sarapan setiap pagi, bahkan suaranya yang lembut ketika berbicara dengannya, hingga kebiasaannya ketika lupa mematikan oven dan membuat roti didalamnya gosong. Ia tidak melupakan semua itu. Jieun istrinya.. satu-satunya orang yang ia sayangi didunia ini pergi meninggalkannya begitu saja tanpa meninggalkan pesan berarti apapun untuknya.
Banyak keadaan yang berubah semenjak Jieun pergi. Jun bahkan sempat menyalahkan dirinya sendiri ketika tidak sempat membuat ibunya itu tersenyum bangga karenanya, sementara kesedihan Hamy ketika itu membuatnya menahannya dan membuatnya menekan dirinya sendiri. Pertukaran sifatpun terjadi pada kedua anak Jieun setelah ia pergi. Jun menjadi seorang yang penurut dan rajin sementara Hamy menjadi anak yang angkuh dan tidak peduli.
Sementara dilain tempat.
Jieun terbangun diatas sebuah kursi ditengah taman itu. “Hah, mimpi macam apa itu? aku mimpi mati… astaga jangan sampai.” Ujarnya sambil berdiri sambil membersihkan badannya.
“Sudah jam berapa ini?” ujarnya sambil melihat jam tangan yang dipakainya. “Waaaa jam 7, aku bisa terlambat menyiapakan sarapan untuk anak-anakku.” Ujarnya sambil berlari menuju rumahnya.
Sesampainya dirumah dan membuka pintu. Ia terkejut melihat suaminya Kamjounglah yang justru penyiapkan hidangan sarapan untuk anak-anaknya.
“Telur dadar lagi ayah? Huh aku bosan, aku tidak mau makan!” ujar Hamy.
“Hey kau tidak boleh seperti itu, ayah sudah membuatkannya susah payah.” Oceh Jun.
“Sudah sini biyar ibu yang buatkan!” ujar senyum Jieun menghampiri Hamy.
Semua orang ditempat itu tak juga menghiraukan Jieun. Ketika ia hendak mengambil sebuah piring yang ada dihadapan anaknya itu piring itupun tidak dapat disentuhnya sedikitpun.
“Apa ini?” kagetnya ketika ia bahkan tidak bisa menyentuh benda apapun.
Dengan rasa takut Jieun mencoba menyentuh pipi Kamjoung, tetapi…
“Ya sudah nanti kita makan diluar bagaimana?” ujar Kamjoung sambil berjalan menembus tubuh Jieun. Ia menghampiri anak-anaknya dan berbicara bersama mereka.
Sementara Jieun terdiam kaku melihat tangan kanannya yang tidak bisa menyentuh keluarganya bahkan benda sekalipun. Ia menghadapkan tubuhnya pada sinar mentari dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati tubuhnya justru tembus pandang.
“Apa yang terjadi padaku?” ujarnya terbata-bata.
“Jika saja ibu masih ada kita pasti akan makan bersama dengan ibu.” Ujar lirih Jun.
“Jun…” lirih Jieun dengan air mata yang mulai mengalir dipipinya. “Tidak mungkin… bukankah yang tadi itu hanya… mimpi.” Tangisnya. Tiba-tiba ia tertarik kesebuah tempat dengan cepat.
Sebuah tempat dimana merupakan sebuah tanah gundukan yang bertulikan namanya disebuah nisan bahkan fotonyapun terpajang tepat didepannya.
“Tidak mungkin… aku…” tangisnya menutup mulut sambil melangkahkan kakiknya mundur. Iapun tersandung dan jatuh ke tanah.
“Jika aku sudah mati, kenapa… kenapa aku masih ada didunia ini. Aku bahkan tidak sanggup untuk melihat orang-orang yang aku cintai menangis karena kepergianku.” Tangisnya.
Hari semakin gelap. Sore harinya Jieun masih berada dipemakaman itu. ia bersandar menekuk lutut disamping batu nisan yang menulis nama dirinya itu. Dalam benaknya muncul berbagai pertanyaan tentang apa yang terjadi padanya, ketidak adilan Tuhan bahkan dikait-kaitkan dengan apa yang terjadi padanya. Hingga ia berfikir dua kali atas itu, ia kemudian berfikir mungkin ini merupakan sebuah kesempatan istimewa yang malaikat berikan padanya dan harus ia pergunakan dengan istimewa pula.
Jieun berdiri dari keterpurukannya. Ia melangkah pergi meninggalkan makam itu menuju rumahnya. Diperjalanan ia mendengar beberapa ibu-ibu penggosip dengan mencibir dirinya dan keluarganya. Mereka yang sedang berpamer kekayaan dan harta menjelek-jelekan anaknya didepan orang lain.
“Kasihan Kamjoung ya, aku dengar dia itu sebenarnya anak orang kaya tetapi rela miskin demi jieun, sekarang malah ditinggal mati. Aku rasa Jieun memang wanita pembawa sial yah.” Ujar orang itu.
“Iya seandainya duda tampan itu bisa berdamping denganku..” ujar yang lain. Sementara merekapun tertawa.
“Omongan menjijikan macam apa itu. Kamjoung bahkan tidak sudi melirikmu.” Eluh Jieun melirik kesal sambil berjalan melewati mereka.
Diujung jalan ia melihat anaknya Jun baru saja keluar rumah menaiki sepedanya. Mendapati itu iapun segera berlari mengikutinya tanpa Jun sadari.
“Huf huf huf hantu ternyata bisa lelah juga yah.” Eluh Jieun sambil berlari. “Jun… tunggu ibumu nak!” teriak Jieun.
Junpun menghentikan laju sepedanya itu.
“Eh? Apa dia sungguh mendengar ucapanku?” ujar senang Jieun. “Nak hey… ini ibu nak!” seru Jiuen sambil melambai.
Junpun menoleh.
Ternyata beberapa anak berandal lain dengan benda tumpulnya berada dibelakang Jun. mereka berjalan menembus Jieun.
“Mereka?” kaget Jieun menyadari bahwa bukan dirinya lah yang membuat Jun berhenti.
“Hey Jun, mau kemana kau? Kau lupa janjimu yah?” ujar salah satu yang paling gendut diantara lima dari mereka. Merekapun mengepung Jun.
“Tidak nak, kau harus lari!” ujar Jieun menghampiri Jun.
“Tidak sekarang bukan. Aku masih harus buru-buru. Bagaimana jika besok?” nego Jun.
“Apa? Besok?” kesal anak itu sambil mencengkram krah baju depan Jun.
“Aku sedang tidak ada uang hari ini. Ayahku belum gajian.” Ujar Jun.
“Aghhh dasar anak miskin!” ujar anak itu sambil melempar Jun ketanah.
“Uh” eluh Jun.
“Tidak jangan!!!!” ujar khawatir Jieun menghadang didepan Jun.
“Teman-teman beri dia pelajaran!” ujar orang itu.
Tanpa kenal Jieun merekapun menembusnya dan menghajar Jun hingga ia luka-luka.
“Tidak hentikan! Hentikan! Dasar kalian berandalan! Juuuuun…” teriak Jieun dengan air mata kembali mengalir dari matanya.
Malam harinya Kamjoung mengobati Jun yang penuh dengan luka lebam itu, sementara Jieun masih menangis diamping Jun.
“Maaf anakku, ibu tidak bisa melingdungimu.” Ujar Jieun sambil mengusap air matanya.
“Maafkan ayah Jun, ini semua karena ayah tidak bisa melunasi biaya rumah sakit ibumu sebelum ia meninggal. Ayah tidak percaya dengan kata-kata polisi saat itu dan membawa ibumu kerumah sakit tetapi takdir memang tak pernah salah. Ibumu tidak bisa tertolong meski ayah sudah berusaha.” Ujar lirih Kamjoung.
Air mata Jieun kembali mengalir perlahan menatap Kamjoung yang mengatakan hal itu dengan segenap hatinya.
“Jadi ini karena aku?” lirih sedih Jieun.
“Tidak apa-apa ayah, aku mengerti bagaimana kondisinya.” Ujar Jun.
“Ini semua karena ayah! Coba saja hari itu ayah bersedia mengantar ibu kepasar pasti ibu tidak akan mati!” sahut Hamy.
Dengan cepat Jieun segera menoleh kearah Hamy. “Hamy mengapa kau bicara seperti itu nak?” kagetnya dengan kata kasar yang dikatakan Hamy.
“Maaf nak ayah tau ini salah ayah.” Ujar lirih Kamjoung.
“Memang salah ayah! Ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik! Ayah tidak akan bisa membahagiakan keluarga ini tanpa ibu, ayah seorang ayah yang gagal!” bentak Hamy.
“Hamy! Hentikan!” bentak Jun.
Jieun menutup mulutnya sambil menangis. “Hamy, ibu tidak menyangka sebesar ini kesedihanmu atas kepergian ibu.” Gumamnya.
Tiba-tiba saja lampu dirumah kecil merekapun mari. Kegelapan menyelimuti malam mereka yang dingin.
“Lihat! Bahkan untuk bayar listrik saja ayah belum bisa apa lagi menghidupiku yah!” bentak Hamy segera membalikan badannya dan menutup selimutnya segera.
“Hamy kau…” kesal Jun.
“Sudahlah Jun, taka apa.” Ujar Kamjoung menahan Jun. “Ini sudah malam, ayo kita tidur! Kau masih harus kesekolah besok bukan?” ujarnya sambil menyelimuti anaknya itu.
Kamjoung menghampiri Hamy dan mencium keningnya lembut juga dengan Jun barulah ia sendiri berbaring diatas kasurnnya yang dingin tanpa sebuah selimut. Dalam pejaman matanya air matanyapun sesekali menetes dari matanya.
“Kamjoung.” Haru Jieun sambil mengelus rambut Kamjoung meski tidak terasa apaapun.
Hari ini dirasa Jieun begitu berat tetapi belum dengan hari-hari setelah itu. Cobaan demi cobaan menerpa keluarga mereka. Jun terpaksa harus diberhentikan dari sekolahnya karena tidak bisa membayar dana bulanan sekolah bahkan ia dipaksa untuk bekerja kasar dirumah joonmyuk ayah dari sang berandal yang sempat memukulinya demi membayar hutang-hutang keluarga mereka. Disetiap harinya Hamy tidak pernah berhenti mengeluhkan soal keadaan keluarganya.
Jieun hanya bisa melihat hal itu, ia tidak bisa berbuat apapun terhadap semua itu. Ia hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja dikedepannya nanti. Hingga ketika ia berjalan mengikuti Kamjoung kelokasi kerjanya. Ia kehilangan jejak Kamjoung dan tersesat disebuah reramaian orang diantara toko. Melihat semua itu ia yang lelah segera duduk disebuah kursi didepan toko. Tetapi tatapannyapun tertuju pada sebuah butik yang memajang banyak gaun pengantin yang indah. Dalam benaknya tersirat sebuah memori dimana dirinya kabur dari sebuah pernikahan yang sudah disiapkan untuk dirinya dengan orang lain yang sudah dijodohkan untuknya, tetapi ia pergi dan justru menikah dengan Kamjoung.
Secara tidak sadar ia memasuki butik itu.
“Waaa gaunnya indah sekali.” Gumam Jieun.
“Ada yang bisa saya bantu?” ujar seorang wanita menghampiri Jieun.
“Eh?” Kaget Jieun. Iapun segera menoleh kesekitarnya. “Apa dia bicara pada orang?” gumamnya.
“Saya bicara dengan anda.” Sambung wanita muda itu.
“Apa? Kau… bisa melihat saya? Ta.. tapi…” bingung Jieun terbata-bata.
Wanita itu justru menatap bingung pada Jieun.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah benar aku sudah mati? Atau sebelumnya memang aku masih hidup hanya saja tidak bisa terlihat untuk sementara? Ah tidak mungkin…” ujar Jieun dalam hati. Iapun mencoba menyentuh wanita itu tetapi tetap tidak bisa.
“Hah? Aku masih hantu, tetapi kenapa aku terlihat? Apa pengaturan hantuku sedang rusak? Huh jieun ayolah berfikir jernih…” ujar Jieun dalam hatinya.
“Nona, hantu ada yang bisa saya bantu?” ujar wanita itu.
“Kyaaaaaaaaaaaaaa kau tau aku hantu?” teriak kaget Jieun sambil bersembunyi dibelakang patung baju itu.
“Oh ayolah…” ujar malas wanita itu.
“Apa kau juga hantu? Maka dari itu kau bisa melihatku?” Tanya Jieun.
“Tidak, aku manusia.” Jawab singkat wanita itu.
“Lalu bagaimana kau tau aku hantu? Bagaimana kau bisa melihatku?”
“Hantu biasanya cenderung tidak tampak disermin.” Ujar lirik wanita itu kesebelah kanannya.
“Kyaaaa… aku tidak ada dicermin, kau ada. Bagaimana kau tau?” kaget Jieun
“Aku bisa melihatmu karena aku memiliki indra keenam. Senang bertemu denganmu. Sepertinya kau hantu baru yah.” Ujar senyum wanita itu.
“Bagaimana kau tau?”
“Itu karena kau sangat bodoh.” Ujar eluh wanita itu. “Kebanyakan hantu biasanya berulah jahat dengan menjaili manusia-manusia dengan penampilan mereka.”
“Penampilan? Apa menurutmu penampilanku cukup menyeramkan?”
“Tidak.” Jawab singkat wanita itu. “Sepertinya kau bukanlah hantu, kau seperti arwah tersesat. Apa yang kau lakukan disini? Ah, namaku Kimi.” Ujarnya sambil mengulurkan tangan kanannya.
“Senang bertemu dengamu Kimu, aku Jieun.” Ujar Jieun sambil menyambut tangan itu.
“Apa yang membuatmu dating kebutikku?” Tanya Kimi.
Jieun tertunduk sedih.
Jieun menceritakan banyak hal mengenai kisah hidupnya. Tentang keluarganyapun ia ceritakan dengan semua masalah yang ada dikeluarganya. Setelah itu Kimipun memberitahu yang ia tahu bahwa sesungguhnya hantu atau arwah tersesatpun bisa berinteraksi dengan manusia. Ia menyarankan sebuah kebaikan demi Jieun karena ia terharu dengan semua cerita Jieun. Ia memperbolehkan Jieun untuk meminjam tubuhnya untuk ia pergunakan.
“Tapi hanya untuk 6 jam ini saja bagaimana?” ujar Kimi.
“Enam jam? Itu terlalu singkat menurutku.” Eluh Jieun.
“Baiklah 7 jam dan tidak bisa lagi lebih dari itu bagaimana? Aku juga masih butuh istirahat. Dan ingat kau tidak boleh mengatakan jati dirimu mengerti?” ujar Kimi.
Jieun mengangguk.
Perjanjianpun disepakati. Jieun memasuki tubuh Kimi demi bertemu dengan keluarganya. Ia memulainya dengan berjalan menuju kerumahnya. Sama seperti sebelumnya, ia lagi-lagi mendengar celotehan tukang gossip yang berkata buruk mengenai keluarganya. Kali ini ia pun menghampiri salah satu yang berkata kasar dari mereka.
PLAK… tamparan keras mendarat dipipinya.
“Camkan ini! Jangan pernah berkata kasar lagi mengenai sahabatku dan keluarga sahabatku ini! Kau tidak tau apa-apa tentang dia atau aku sendirilah yang akan membunumu kemudian mengulitimu dengan tutup botol, paham!” ancamnya.
Iapun kembali berjalan menuju rumah joonmyuk untuk mengambil anaknya. Tanpa sungkan ia memasuki gerbang rumah besar itu dan menghabisi seluruh penjaganya.
Bug.. seorang anak laki-laki gendung terjatuh ditanah karena pukulan Jieun.
“Cuih… itu untuk anakku!” ujarnya.
Iapun segera menarik Jun keluar dari rumah besar itu, beruntung joonmyuk tidak ada dirumah itu untuk hari ini jadi ia menjadi aman untuk mengambil anaknya tersebut.
“Siapa kau?” Tanya bingung Jun sambil berjalan pulang.
“Euhmmm aku teman ibumu, Kimi.” Ujar senyum Jieun.
“Oh…” singkat Jun.
Sesampainya dirumah iapun segera masuk kerumah yang sempit itu.
“Sepertinya ayah dah Hamyo belum pulang. Ayo masuk!” ujar Jun.
“Kau menjadi lebih sopan!” gumam senyum Jieun.
Merekapun segera masuk kerumah itu. Jieun mengerjakan kebiasaannya ketika masuk kerumahnya dan segera pergi kedapur sementara Jun hanya melihat bingung. Jieun membuat sebuah makan malam untuk keluarganya itu hingga sang ayah dan Hamypun pulang.
“Siapa kau?” kaget Kamjoung sesampainya didapur dan melihat Jieun memasak.
“Ehm… aku teman Jieun.” Ujar senyumnya.
Hamypun mengendus masakan itu.
“Bau ini… seperti bau masakan Ibu.” Ujar Hamy.
“Ah hehehehe mungkin karena resepnya saja sama. Jieun kan belajar masak padaku.” Ujarnya
“Kau teman Jieun yang mana?” Tanya Kamjoung.
“Aku Kimi kenalannya disekolah.”
“Seingatku Jieun tidak pernah punya teman bernama Kimi. Lagipula dia tidak pernah keluar rumah.”
“Ah mungkin hanya perasaanmu saja.”
“Ayah. Dia yang sudah membantuku bebas dari joonmyuk yah.” Sambung Jun.
Kamjoungpun menoleh. “Benarkah? Kalau begitu terima kasih banyak.” Ujarnya sambil membungkukkan badannya sesekali.
“Ah tidak usah berterimakasih. Aku iblas melakukan semua ini demi sahabatku.” Ujar malu Jieun.
“Tapi bagaimana kau tau masalah keluarga kami?” Tanya Kamjoung.
Jieun terdiam. “Astaga. Aku tidak berfikir Kamjoung akan bertanya sampai sedetail itu.” gumamnya dalam hati.
“Ayah ayolah kita makan saja, kau terlalu banyak bicara. Aku sudah lapar!” ujar Hamy.
“Huft syukurlah.” Lega Jieun.
Merekapun menyantap makaan malam itu dengan hangat. Kamjoung, Jun dan Hamy melihat orang dihadapannya itu seperti Jieun. Rasa masakannya, caranya menghidangkan bahkan hingga caranya duduk dan makan benar-benar sama persis dengan Jieun. Hamy meneteskan air matanya ketika itu, semua itu membuat ia mengingat ibu tersayangnya itu yang telah lama meninggal.
“Ada apa?” Tanya lembut Jieun sambil mengelus rambut Hamy.
“Aku rindu Ibuku. Seadainya kau adalah dia aku pasti sudah disuapi.” Ujar lirih Hamy.
Jieun tersenyum manis dan menyendok sayur itu. “Sini biyar aku yang suapi, anggap saja aku ibumu Jieun.” Ujarnya.
Prang… Hamy segera menepis piring itu dan berlari keluar. “Ibu adalah ibu dan selamanya tidak akan bisa disamakan oleh siapapun!” bentaknya.
“Hamy… hamy…” kejar Jieun.
“Tidak! Hamy…” kejar Kamjoung kemudian.
Setibanya diluar tiba-tiba Hamy terhenti mendapati seseorang wanita paruh baya keluar dari sebuah mobil mewah.
“Ibu…” lirih Jieun dalam hati.
“Lama tidak bertemu Kamjoung.” Ujar sinis wanita itu.
Kamjoungpun terdiam kaku melihat tepat dihadapannya berdiri sang mertua perempuaannya. Ibu dari Jieun.
“Jadi dimana kau sembunyikan putriku dan cucu-cucuku? Aku ingin menemui mereka!” ujar orang tua itu.
“Cucu?” bingung Hamy.
Junpun keluar dari rumahnya.
Orang itu menghampiri Hamy. “Jadi ini cucuku?” tanyanya sambil membelai lembut rambut Hamy.
“Ya.. dan yang laki-laki adalah cucu laki-lakimu!” ujar Kamjoung sambil mengalihkan mata.
Orang itupun menghampiri Jun sambil menggandenga Hamy. “Waaa cucu-cucuku benar-benar mirip denganku. Lalu dimana Jieun?” Tanya orang itu cepat menghadap Kamjoung.
“Dia… dia…” lirih Kamjjoung.
“Ibu sudah meninggal nek.” Sambung Hamy.
“Apa?” kaget orang itu dengan mata berbelalap. Iapun segera menghampiri Kamjoung.
PLAK… tamparan keras dipipi Kamjoung untuk kematian Jieun yang tidak bisa ia tahan.
“Maaf… aku tau aku salah.” Ujar lirih Kamjoung.
“Tentu saja kau salah! Kau sudah membawa kabur putriku kini kau membunuhnya. Kau… kau benar-benar lelaki tak terotak! Tak berperasaan! Kau bahkan tidak pantas untuk menjadi ayah! Kau menyengsarakan anakku!” bentak orang itu.
“Cukup!” teriak Jieun yang ada didalam tubuh Kimi.
Semua mataopun tertuju padanya.
“Jieun bukan mati dibunuh, ia mati karena kelalaiannya sendiri. Ia tidak salah memilih pasangan! Sebelumnya mereka bahagia dalam keluarganya yang kecil dan sederhana. Tidak untuk padamu, kau buta akan harta dan tidak melihat apakah anakmu bahagia hidup denganmu atau tidak. Kaulah yang tidak pantas disebut sebagai ibu!” bentak Kimi.
Suasanapun hening sesaat.
“Siapa kau ini, beraninya berbicara seperti itu dihadapanku. Apa kau selingkuhan Kamjoung hah?” ujar orang tua itu sambil mengitari Kimi.
“Tidak. Aku sahabat Jieun, dia selalu mengatakan apapun padaku.” Ujar Jieun.
“Kau tidak tau apa-apa soal keluargaku. Jadi kau tidak sepantasnya mengaturku! Dasar perempuan jalan…” bisik orang tua itu.
“Hah?” kaget Jieun.
Nenek merekapun membawa Hamy dan Jun paksa untuk tinggal dirumahnya dan meninggalkan Kamjoung sendiri ditempat itu bersama Kimi. Jieun bahkan tidak pernah membayangkan jika kondisi akan semakin parah seperti ini. Ia hanya berharap yang terbaik untuk keluarganya bukan yang terburuk untuk keluarganya.
“Maafkan aku Kamjoung. Aku tidak bisa mempertahankan anak-anakmu!” ujar Jieun.
“Tidak kau tidak salah. Ini sudah kewajibanku sebagai seorang suami, jadi jangan pernah menganggap ini sebagai bebanmu.” Ujar Kamjoung.
“Kau lelaki yang baik Joung, beruntung Jieun mendapatkanmu.”
“Tidak. Seharusnya aku yang beruntung bisa mendapatkan seorang perempuan setegar dirinya. Ia banyak berkorban demi aku dan demi anak-anakku. Ia seorang istri yang baik dan ibu yang hebat bagiku. Itu yang membuatku selalu mencintainya dan akan terus seperti itu sampai kapanpun. Aku yakin dia dialam sanapun seperti itu.” ujar Kamjoung tersenyum.
“Kuatnya ikatan cinta kita tidak akan bisa terlepas oleh badai apapun Joung. Sejauh apapun kita berpisah aku percaya aku akan selalu dekat denganmu.” Gumam Jieun dalam hati sambil menatap senyum Kamjoung.
“Sepertinya Jieun banyak bercerita padamu yah tentang kami?” Tanya Kamjoung.
“Iya. Ia berkata kau seorang ayah yang tegar dan tidak pernah mengeluh. Apapun kau kerjakan meski itu sulit demi orang yang kau sayang bukan?” ujar Jieun.
“Sepertinya itu terlalu berlebihan.” Ujar senyum Kamjoung.
“Kau harus mengambil anakmu kembali Joung… bukankah kau mencintai mereka? Merekalah satu-satunya peninggalan Jieun bukan?” ujar Jieun.
Hari berlalu cepat. Makan malam hangat yang didamba-dambakan Jieun tak pernah hadir tapi ia berhasil membuka mata Kamjoung untuk terus berusaha mengambil kembali anaknya dari tangan ibunya. Waktu perjanjian berakhir. Kimi kembali menjadi dirinya.
“Satu kali lagi yah… kumohon…!” ujar Jieun.
“Aku sudah lelah Ji.” Eluh Kimi.
“Kumohon. Ibuku mengambil anakku pasksa!” ujar Jieun memohon.
“Huh.” Eluh Jieun.
Jieun kembali merasuki tubuh Kimi untuk yang kedua kalinya. Ia berniat membuntuti Kamjoung kerumah ibunya itu untuk mengambil anaknya. Kamjoung sampai dirumah besar itu. ia menerobos masuk dengan paksa meski harus berkelahi dengan penjaga gerbang rumah.
“Hamy! Jun!” panggil teriak Kamjoung setelah membuka pintu.
“Ayah..” tangis kedua anaknya menghampirinya.
Mereka rindukan ayahnya itu meski baru semalam terpisah. Dalam hati mereka hanya ada sosok ayahnya saja lah yang kini hadir dihidup mereka. Mereka tidak ingin kehilangan ayahnya setelah kehilangan sang ibu pula. Sekeluarnya sang nenek terjadi sebuah perdebatan hebat antara sang nenek dan Kamjoung. Kakak Jieun, Eunjipun keluar untuk membantu neneknya.
“Hentikan semua!” teriak Jieun dalam tubuh Kimi yang tiba-tiba memasuki rumah itu.
Suasanapun hening menatap dirinya.
“Apa kalian tahu arwah Jieun kini tidak tenang karena ulah kalian? Hah?” ujar Jieun.
“Lagi-lagi kau.” Ujar kesal sang nenek.
“Aku Jieun!!!! Aku masih didunia ini. Aku merasuki tubuh Kimi untuk bisa bicara dengan kalian.” Ujar kesal Jieun.
“Mustahil.” Kaget Kamjoung terbelanga.
“Kalau kalian tidak percaya, test aku!” ujar Jieun.
Sang nenekpun mengetesnya dan dalam semua test itu iapun lulus. Mereka semua baru menyadari bahwa itu memang benar Jieun orang yang dianggap sudah mati selama ini ternyata masih bisa ada disamping mereka. Betapa senangnya anak-anaknya mengetahuinya ibunya berada dihadapan mereka saat itu. Jieun mengajukan sebuah permintaan untuk ibunya agar memaafkan dirinya dan Kamjoung kamudian membiarkan mereka tinggal dirumah itu tanpa ada lagi konflik.
Meskipun berat sang nenekpun menyetujui permintaan itu. Ia sesungguhnya masih mengharapkan sang anak yang ia sayangi itu. Hingga tidak begitu lama dari waktu itu Kamjoung mengantarkan Kimi untuk kembali kebutiknya, Jieun berkata bahwa ia tidak bisa hidup dengan mereka semua. Mereka harus merelakan kepergiannya terutama untuk anak-anaknya.
Diperjalanan Jieun terhenti melihat seorang lekaki berjas hitam rapih berdiri dihadapannya.
“Ada apa?” Tanya Kamjoung.
Lelaki itu membuka kacamata hitamnya dan sekejap waktupun terhenti.
“Jieun keluar kau!” ujar lelaki itu sambil menjewer teling Jieun dan mengeluarkan Jieun begitu saja dengan mudah.
“Siapa kau?” Tanya Jieun.
“Aku malaikat penjagamu, hey apa kau lupa?” ujar lelaki itu sambil mengetok pelan kepala Jieun.
Jieun teringat sesuatu ketika ia menaiki tangga menuju surga ia justru kabur melompat dari tangga itu ketika melihat penampakan keluarganya dibenaknya.
“Aku sudah memberikan waktu senang-senangmu terlalu banyak, kini kembalilah kealammu dan jangan menyusahkanku lagi, dasar bodoh!” ujar lelaki itu.
“Baiklah, maaf menyusahkanmu tuan malaikat!” ujar Jieun tersenyum.
Iapun segera mencium kening Kamjoung dan menggandeng lelaki itu kemudian berjalan riang menuju pintu.
“Kenapa bocah ini senang?” bingung lelaki itu sambil memakai kembali kaca mata hitamnya.
Jieun tersenyum menuju dunianya. Ia pergi dengan damai meninggalkan setitik kegembiraan dihatinya. Setidaknya ia sudah lega dengan kondisi keluarganya saat ini. Kehidupan anak-anaknya lebih terjamin disamping neneknya. Kamjoung kembali menjadi seorang pengusaha sukses hingga berbisnis dengan Kimi. Mereka taak lagi dijelak-jelekan oleh orang lain dibelakang mereka. Meski beberapa diantaranya seperti joonmyuk masih menyimpan dendam terhadap mereka.
Dialah Jieun seorang perempuan tangguh yang akan terus melihat meski maut menghampirinya. Dialah ibuku…
Tertulis Hamyeon jeongmeol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar