korean version story
Sebuah kisah fiksi karya : Ahyena Yuishioka_
Hak cipta milik : Yeyen Okta Kurniawati
BERDASARKAN KISAH NYATA
![]() |
| arwah menangis-google-search.com for jieun's life |
JIEUN’S
LIFE
Satu
lagi keluarga bahagia hadir ditengah-tengah dunia ini. Mereka adalah pasang
bahagia Jieun dan Kamjoung, dengan kedua anak mereka Junkyung dan Hamyeon.
Junkyung seorang kakak genap berumur 13 tahun tahun ini sementara adik
perempuannya yang kerap disapa Hamy hanya berbeda 5 tahun darinya. Mereka
adalah sebuah keluarga yang lengkap dengan dibumbui cinta disetiap harinya
meski Jieun kerap kali bertindak sebagai seorang ibu yang galak untuk
anak-anaknya tetapi itu dilakukannya semata-mata demi kebaikan anak-anaknya.
Kamjoung hanya seorang kontraktor dengan bayaran kecil yang tentunya tidak
sepadan dengan kebutuhan keluarganya, tetapi meski hidup penuh kesulitan
sedikitpun Jieun tidak pernah menolak semua kesulitan itu.
Sebelumnya
Jieun dan Kamjoung merupakan anak dari seorang pengusaha kaya masing-masing
tetapi mereka kabur dari keluarganya yang ditak merestui hubungan mereka.
Mereka hidup terasing dari semua keluarganya dan hidup dengan keluarga kecil
mereka saat ini. Ada sebuah perbedaan besar pada kedua anak Jieun, Hamy
memiliki sifat seperti ayahnya yang selalu lembut dan menuruti kata-katanya
sementara Jun sedikit mewarisi sifat neneknya yaitu ibu dari Jieun yang tidak
pernah puas dengan apapun yang didapatkannya. Ia selalu keras kepala dan ingin
berkuasa atas segalanya tidak pernah peduli terhadap apapun yang terjadi bahkan
Jieunpun sampai kewalahan untuk mengatur kenakalan Jun.
Hingga
pada suatu hari disore yang mendung dimana awan terlihat sendu hendak berduka.
Sebuah kabar dating pada Kamjoung yang sedang bekerja.
“Tuan
Kamjoung?” Tanya seorang polisi menghampirinya.
Kamjoung
menoleh sambil membasuh keringatnya dengan handuk kecil yang tersampir dipundak
kanannya. “Iya dengan saya sendiri.” Ujarnya penasaran.
“Apa
Jieun yuyoung benar merupakan istri sah anda?” Tanya sang polisi.
“Iya
benar.” Jantung kamjoung semakin berdetak kencang.
“Dengan
rasa belasungkawa kami melaporkan bahwa istri anda mengalami kecelakaan, dan
nyawa beliau tidak bisa kami tolong lagi.” Ujar sang polisi lirih.
Sontak
tubuh Kamjoung tiba-tiba membeku, ia menjadi sulit bernafas dansekelilingnyapun
menjadi semakin gelap gulita. Ia tak sadarkan diri, tetapi air matanya tetap
menetes meski ia tidak sadar. Ia merasa dunia ini seperti kiamat ketika Jieun
tidak ada disampingnya. Satu-satunya alasan ia melakukan semua ia sampai sejauh
ini adalah bisa bersama jieun, tidak pernah terfikir olehnya bahwa jieun akan
pergi darinya secepat itu. Padahal masih bisa terbayang wajahnya saat itu,
masih bisa tercium bau wanginya ketika ia sedang menyiapkan sarapan setiap
pagi, bahkan suaranya yang lembut ketika berbicara dengannya, hingga
kebiasaannya ketika lupa mematikan oven dan membuat roti didalamnya gosong. Ia
tidak melupakan semua itu. Jieun istrinya.. satu-satunya orang yang ia sayangi
didunia ini pergi meninggalkannya begitu saja tanpa meninggalkan pesan berarti
apapun untuknya.
Banyak
keadaan yang berubah semenjak Jieun pergi. Jun bahkan sempat menyalahkan
dirinya sendiri ketika tidak sempat membuat ibunya itu tersenyum bangga karenanya,
sementara kesedihan Hamy ketika itu membuatnya menahannya dan membuatnya
menekan dirinya sendiri. Pertukaran sifatpun terjadi pada kedua anak Jieun
setelah ia pergi. Jun menjadi seorang yang penurut dan rajin sementara Hamy
menjadi anak yang angkuh dan tidak peduli.
Sementara
dilain tempat.
Jieun
terbangun diatas sebuah kursi ditengah taman itu. “Hah, mimpi macam apa itu?
aku mimpi mati… astaga jangan sampai.” Ujarnya sambil berdiri sambil
membersihkan badannya.
“Sudah
jam berapa ini?” ujarnya sambil melihat jam tangan yang dipakainya. “Waaaa jam
7, aku bisa terlambat menyiapakan sarapan untuk anak-anakku.” Ujarnya sambil
berlari menuju rumahnya.
Sesampainya
dirumah dan membuka pintu. Ia terkejut melihat suaminya Kamjounglah yang justru
penyiapkan hidangan sarapan untuk anak-anaknya.
“Telur
dadar lagi ayah? Huh aku bosan, aku tidak mau makan!” ujar Hamy.
“Hey
kau tidak boleh seperti itu, ayah sudah membuatkannya susah payah.” Oceh Jun.
“Sudah
sini biyar ibu yang buatkan!” ujar senyum Jieun menghampiri Hamy.
Semua
orang ditempat itu tak juga menghiraukan Jieun. Ketika ia hendak mengambil
sebuah piring yang ada dihadapan anaknya itu piring itupun tidak dapat
disentuhnya sedikitpun.
“Apa
ini?” kagetnya ketika ia bahkan tidak bisa menyentuh benda apapun.
Dengan
rasa takut Jieun mencoba menyentuh pipi Kamjoung, tetapi…
“Ya
sudah nanti kita makan diluar bagaimana?” ujar Kamjoung sambil berjalan
menembus tubuh Jieun. Ia menghampiri anak-anaknya dan berbicara bersama mereka.
Sementara
Jieun terdiam kaku melihat tangan kanannya yang tidak bisa menyentuh
keluarganya bahkan benda sekalipun. Ia menghadapkan tubuhnya pada sinar mentari
dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati tubuhnya justru tembus pandang.
“Apa
yang terjadi padaku?” ujarnya terbata-bata.
“Jika
saja ibu masih ada kita pasti akan makan bersama dengan ibu.” Ujar lirih Jun.
“Jun…”
lirih Jieun dengan air mata yang mulai mengalir dipipinya. “Tidak mungkin…
bukankah yang tadi itu hanya… mimpi.” Tangisnya. Tiba-tiba ia tertarik kesebuah
tempat dengan cepat.
Sebuah
tempat dimana merupakan sebuah tanah gundukan yang bertulikan namanya disebuah
nisan bahkan fotonyapun terpajang tepat didepannya.
“Tidak
mungkin… aku…” tangisnya menutup mulut sambil melangkahkan kakiknya mundur.
Iapun tersandung dan jatuh ke tanah.
“Jika
aku sudah mati, kenapa… kenapa aku masih ada didunia ini. Aku bahkan tidak
sanggup untuk melihat orang-orang yang aku cintai menangis karena kepergianku.”
Tangisnya.
Hari
semakin gelap. Sore harinya Jieun masih berada dipemakaman itu. ia bersandar
menekuk lutut disamping batu nisan yang menulis nama dirinya itu. Dalam
benaknya muncul berbagai pertanyaan tentang apa yang terjadi padanya, ketidak
adilan Tuhan bahkan dikait-kaitkan dengan apa yang terjadi padanya. Hingga ia
berfikir dua kali atas itu, ia kemudian berfikir mungkin ini merupakan sebuah
kesempatan istimewa yang malaikat berikan padanya dan harus ia pergunakan
dengan istimewa pula.
Jieun
berdiri dari keterpurukannya. Ia melangkah pergi meninggalkan makam itu menuju
rumahnya. Diperjalanan ia mendengar beberapa ibu-ibu penggosip dengan mencibir
dirinya dan keluarganya. Mereka yang sedang berpamer kekayaan dan harta
menjelek-jelekan anaknya didepan orang lain.
“Kasihan
Kamjoung ya, aku dengar dia itu sebenarnya anak orang kaya tetapi rela miskin
demi jieun, sekarang malah ditinggal mati. Aku rasa Jieun memang wanita pembawa
sial yah.” Ujar orang itu.
“Iya
seandainya duda tampan itu bisa berdamping denganku..” ujar yang lain.
Sementara merekapun tertawa.
“Omongan
menjijikan macam apa itu. Kamjoung bahkan tidak sudi melirikmu.” Eluh Jieun
melirik kesal sambil berjalan melewati mereka.
Diujung
jalan ia melihat anaknya Jun baru saja keluar rumah menaiki sepedanya.
Mendapati itu iapun segera berlari mengikutinya tanpa Jun sadari.
“Huf
huf huf hantu ternyata bisa lelah juga yah.” Eluh Jieun sambil berlari. “Jun…
tunggu ibumu nak!” teriak Jieun.
Junpun
menghentikan laju sepedanya itu.
“Eh?
Apa dia sungguh mendengar ucapanku?” ujar senang Jieun. “Nak hey… ini ibu nak!”
seru Jiuen sambil melambai.
Junpun
menoleh.
Ternyata
beberapa anak berandal lain dengan benda tumpulnya berada dibelakang Jun.
mereka berjalan menembus Jieun.
“Mereka?”
kaget Jieun menyadari bahwa bukan dirinya lah yang membuat Jun berhenti.
“Hey
Jun, mau kemana kau? Kau lupa janjimu yah?” ujar salah satu yang paling gendut
diantara lima dari mereka. Merekapun mengepung Jun.
“Tidak
nak, kau harus lari!” ujar Jieun menghampiri Jun.
“Tidak
sekarang bukan. Aku masih harus buru-buru. Bagaimana jika besok?” nego Jun.
“Apa?
Besok?” kesal anak itu sambil mencengkram krah baju depan Jun.
“Aku
sedang tidak ada uang hari ini. Ayahku belum gajian.” Ujar Jun.
“Aghhh
dasar anak miskin!” ujar anak itu sambil melempar Jun ketanah.
“Uh”
eluh Jun.
“Tidak
jangan!!!!” ujar khawatir Jieun menghadang didepan Jun.
“Teman-teman
beri dia pelajaran!” ujar orang itu.
Tanpa
kenal Jieun merekapun menembusnya dan menghajar Jun hingga ia luka-luka.
“Tidak
hentikan! Hentikan! Dasar kalian berandalan! Juuuuun…” teriak Jieun dengan air
mata kembali mengalir dari matanya.
Malam
harinya Kamjoung mengobati Jun yang penuh dengan luka lebam itu, sementara
Jieun masih menangis diamping Jun.
“Maaf
anakku, ibu tidak bisa melingdungimu.” Ujar Jieun sambil mengusap air matanya.
“Maafkan
ayah Jun, ini semua karena ayah tidak bisa melunasi biaya rumah sakit ibumu
sebelum ia meninggal. Ayah tidak percaya dengan kata-kata polisi saat itu dan
membawa ibumu kerumah sakit tetapi takdir memang tak pernah salah. Ibumu tidak
bisa tertolong meski ayah sudah berusaha.” Ujar lirih Kamjoung.
Air
mata Jieun kembali mengalir perlahan menatap Kamjoung yang mengatakan hal itu
dengan segenap hatinya.
“Jadi
ini karena aku?” lirih sedih Jieun.
“Tidak
apa-apa ayah, aku mengerti bagaimana kondisinya.” Ujar Jun.
“Ini
semua karena ayah! Coba saja hari itu ayah bersedia mengantar ibu kepasar pasti
ibu tidak akan mati!” sahut Hamy.
Dengan
cepat Jieun segera menoleh kearah Hamy. “Hamy mengapa kau bicara seperti itu
nak?” kagetnya dengan kata kasar yang dikatakan Hamy.
“Maaf
nak ayah tau ini salah ayah.” Ujar lirih Kamjoung.
“Memang
salah ayah! Ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik! Ayah tidak akan bisa
membahagiakan keluarga ini tanpa ibu, ayah seorang ayah yang gagal!” bentak
Hamy.
“Hamy!
Hentikan!” bentak Jun.
Jieun
menutup mulutnya sambil menangis. “Hamy, ibu tidak menyangka sebesar ini
kesedihanmu atas kepergian ibu.” Gumamnya.
Tiba-tiba
saja lampu dirumah kecil merekapun mari. Kegelapan menyelimuti malam mereka
yang dingin.
“Lihat!
Bahkan untuk bayar listrik saja ayah belum bisa apa lagi menghidupiku yah!” bentak
Hamy segera membalikan badannya dan menutup selimutnya segera.
“Hamy
kau…” kesal Jun.
“Sudahlah
Jun, taka apa.” Ujar Kamjoung menahan Jun. “Ini sudah malam, ayo kita tidur!
Kau masih harus kesekolah besok bukan?” ujarnya sambil menyelimuti anaknya itu.
Kamjoung
menghampiri Hamy dan mencium keningnya lembut juga dengan Jun barulah ia
sendiri berbaring diatas kasurnnya yang dingin tanpa sebuah selimut. Dalam
pejaman matanya air matanyapun sesekali menetes dari matanya.
“Kamjoung.”
Haru Jieun sambil mengelus rambut Kamjoung meski tidak terasa apaapun.
Hari
ini dirasa Jieun begitu berat tetapi belum dengan hari-hari setelah itu. Cobaan
demi cobaan menerpa keluarga mereka. Jun terpaksa harus diberhentikan dari
sekolahnya karena tidak bisa membayar dana bulanan sekolah bahkan ia dipaksa
untuk bekerja kasar dirumah joonmyuk ayah dari sang berandal yang sempat
memukulinya demi membayar hutang-hutang keluarga mereka. Disetiap harinya Hamy
tidak pernah berhenti mengeluhkan soal keadaan keluarganya.
Jieun
hanya bisa melihat hal itu, ia tidak bisa berbuat apapun terhadap semua itu. Ia
hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja dikedepannya nanti. Hingga
ketika ia berjalan mengikuti Kamjoung kelokasi kerjanya. Ia kehilangan jejak
Kamjoung dan tersesat disebuah reramaian orang diantara toko. Melihat semua itu
ia yang lelah segera duduk disebuah kursi didepan toko. Tetapi tatapannyapun
tertuju pada sebuah butik yang memajang banyak gaun pengantin yang indah. Dalam
benaknya tersirat sebuah memori dimana dirinya kabur dari sebuah pernikahan
yang sudah disiapkan untuk dirinya dengan orang lain yang sudah dijodohkan
untuknya, tetapi ia pergi dan justru menikah dengan Kamjoung.
Secara
tidak sadar ia memasuki butik itu.
“Waaa
gaunnya indah sekali.” Gumam Jieun.
“Ada
yang bisa saya bantu?” ujar seorang wanita menghampiri Jieun.
“Eh?”
Kaget Jieun. Iapun segera menoleh kesekitarnya. “Apa dia bicara pada orang?”
gumamnya.
“Saya
bicara dengan anda.” Sambung wanita muda itu.
“Apa?
Kau… bisa melihat saya? Ta.. tapi…” bingung Jieun terbata-bata.
Wanita
itu justru menatap bingung pada Jieun.
“Apa
yang terjadi sebenarnya? Bukankah benar aku sudah mati? Atau sebelumnya memang
aku masih hidup hanya saja tidak bisa terlihat untuk sementara? Ah tidak
mungkin…” ujar Jieun dalam hati. Iapun mencoba menyentuh wanita itu tetapi
tetap tidak bisa.
“Hah?
Aku masih hantu, tetapi kenapa aku terlihat? Apa pengaturan hantuku sedang
rusak? Huh jieun ayolah berfikir jernih…” ujar Jieun dalam hatinya.
“Nona,
hantu ada yang bisa saya bantu?” ujar wanita itu.
“Kyaaaaaaaaaaaaaa
kau tau aku hantu?” teriak kaget Jieun sambil bersembunyi dibelakang patung
baju itu.
“Oh
ayolah…” ujar malas wanita itu.
“Apa
kau juga hantu? Maka dari itu kau bisa melihatku?” Tanya Jieun.
“Tidak,
aku manusia.” Jawab singkat wanita itu.
“Lalu
bagaimana kau tau aku hantu? Bagaimana kau bisa melihatku?”
“Hantu
biasanya cenderung tidak tampak disermin.” Ujar lirik wanita itu kesebelah
kanannya.
“Kyaaaa…
aku tidak ada dicermin, kau ada. Bagaimana kau tau?” kaget Jieun
“Aku
bisa melihatmu karena aku memiliki indra keenam. Senang bertemu denganmu.
Sepertinya kau hantu baru yah.” Ujar senyum wanita itu.
“Bagaimana
kau tau?”
“Itu
karena kau sangat bodoh.” Ujar eluh wanita itu. “Kebanyakan hantu biasanya
berulah jahat dengan menjaili manusia-manusia dengan penampilan mereka.”
“Penampilan?
Apa menurutmu penampilanku cukup menyeramkan?”
“Tidak.”
Jawab singkat wanita itu. “Sepertinya kau bukanlah hantu, kau seperti arwah
tersesat. Apa yang kau lakukan disini? Ah, namaku Kimi.” Ujarnya sambil mengulurkan
tangan kanannya.
“Senang
bertemu dengamu Kimu, aku Jieun.” Ujar Jieun sambil menyambut tangan itu.
“Apa
yang membuatmu dating kebutikku?” Tanya Kimi.
Jieun
tertunduk sedih.
Jieun
menceritakan banyak hal mengenai kisah hidupnya. Tentang keluarganyapun ia
ceritakan dengan semua masalah yang ada dikeluarganya. Setelah itu Kimipun
memberitahu yang ia tahu bahwa sesungguhnya hantu atau arwah tersesatpun bisa
berinteraksi dengan manusia. Ia menyarankan sebuah kebaikan demi Jieun karena
ia terharu dengan semua cerita Jieun. Ia memperbolehkan Jieun untuk meminjam
tubuhnya untuk ia pergunakan.
“Tapi
hanya untuk 6 jam ini saja bagaimana?” ujar Kimi.
“Enam
jam? Itu terlalu singkat menurutku.” Eluh Jieun.
“Baiklah
7 jam dan tidak bisa lagi lebih dari itu bagaimana? Aku juga masih butuh
istirahat. Dan ingat kau tidak boleh mengatakan jati dirimu mengerti?” ujar
Kimi.
Jieun
mengangguk.
Perjanjianpun
disepakati. Jieun memasuki tubuh Kimi demi bertemu dengan keluarganya. Ia
memulainya dengan berjalan menuju kerumahnya. Sama seperti sebelumnya, ia
lagi-lagi mendengar celotehan tukang gossip yang berkata buruk mengenai
keluarganya. Kali ini ia pun menghampiri salah satu yang berkata kasar dari
mereka.
PLAK…
tamparan keras mendarat dipipinya.
“Camkan
ini! Jangan pernah berkata kasar lagi mengenai sahabatku dan keluarga sahabatku
ini! Kau tidak tau apa-apa tentang dia atau aku sendirilah yang akan membunumu
kemudian mengulitimu dengan tutup botol, paham!” ancamnya.
Iapun
kembali berjalan menuju rumah joonmyuk untuk mengambil anaknya. Tanpa sungkan
ia memasuki gerbang rumah besar itu dan menghabisi seluruh penjaganya.
Bug..
seorang anak laki-laki gendung terjatuh ditanah karena pukulan Jieun.
“Cuih…
itu untuk anakku!” ujarnya.
Iapun
segera menarik Jun keluar dari rumah besar itu, beruntung joonmyuk tidak ada
dirumah itu untuk hari ini jadi ia menjadi aman untuk mengambil anaknya
tersebut.
“Siapa
kau?” Tanya bingung Jun sambil berjalan pulang.
“Euhmmm
aku teman ibumu, Kimi.” Ujar senyum Jieun.
“Oh…”
singkat Jun.
Sesampainya
dirumah iapun segera masuk kerumah yang sempit itu.
“Sepertinya
ayah dah Hamyo belum pulang. Ayo masuk!” ujar Jun.
“Kau
menjadi lebih sopan!” gumam senyum Jieun.
Merekapun
segera masuk kerumah itu. Jieun mengerjakan kebiasaannya ketika masuk
kerumahnya dan segera pergi kedapur sementara Jun hanya melihat bingung. Jieun
membuat sebuah makan malam untuk keluarganya itu hingga sang ayah dan Hamypun
pulang.
“Siapa
kau?” kaget Kamjoung sesampainya didapur dan melihat Jieun memasak.
“Ehm…
aku teman Jieun.” Ujar senyumnya.
Hamypun
mengendus masakan itu.
“Bau
ini… seperti bau masakan Ibu.” Ujar Hamy.
“Ah
hehehehe mungkin karena resepnya saja sama. Jieun kan belajar masak padaku.”
Ujarnya
“Kau
teman Jieun yang mana?” Tanya Kamjoung.
“Aku
Kimi kenalannya disekolah.”
“Seingatku
Jieun tidak pernah punya teman bernama Kimi. Lagipula dia tidak pernah keluar
rumah.”
“Ah
mungkin hanya perasaanmu saja.”
“Ayah.
Dia yang sudah membantuku bebas dari joonmyuk yah.” Sambung Jun.
Kamjoungpun
menoleh. “Benarkah? Kalau begitu terima kasih banyak.” Ujarnya sambil
membungkukkan badannya sesekali.
“Ah
tidak usah berterimakasih. Aku iblas melakukan semua ini demi sahabatku.” Ujar
malu Jieun.
“Tapi
bagaimana kau tau masalah keluarga kami?” Tanya Kamjoung.
Jieun
terdiam. “Astaga. Aku tidak berfikir Kamjoung akan bertanya sampai sedetail
itu.” gumamnya dalam hati.
“Ayah
ayolah kita makan saja, kau terlalu banyak bicara. Aku sudah lapar!” ujar Hamy.
“Huft
syukurlah.” Lega Jieun.
Merekapun
menyantap makaan malam itu dengan hangat. Kamjoung, Jun dan Hamy melihat orang
dihadapannya itu seperti Jieun. Rasa masakannya, caranya menghidangkan bahkan
hingga caranya duduk dan makan benar-benar sama persis dengan Jieun. Hamy
meneteskan air matanya ketika itu, semua itu membuat ia mengingat ibu
tersayangnya itu yang telah lama meninggal.
“Ada
apa?” Tanya lembut Jieun sambil mengelus rambut Hamy.
“Aku
rindu Ibuku. Seadainya kau adalah dia aku pasti sudah disuapi.” Ujar lirih Hamy.
Jieun
tersenyum manis dan menyendok sayur itu. “Sini biyar aku yang suapi, anggap
saja aku ibumu Jieun.” Ujarnya.
Prang…
Hamy segera menepis piring itu dan berlari keluar. “Ibu adalah ibu dan
selamanya tidak akan bisa disamakan oleh siapapun!” bentaknya.
“Hamy…
hamy…” kejar Jieun.
“Tidak!
Hamy…” kejar Kamjoung kemudian.
Setibanya
diluar tiba-tiba Hamy terhenti mendapati seseorang wanita paruh baya keluar
dari sebuah mobil mewah.
“Ibu…”
lirih Jieun dalam hati.
“Lama
tidak bertemu Kamjoung.” Ujar sinis wanita itu.
Kamjoungpun
terdiam kaku melihat tepat dihadapannya berdiri sang mertua perempuaannya. Ibu
dari Jieun.
“Jadi
dimana kau sembunyikan putriku dan cucu-cucuku? Aku ingin menemui mereka!” ujar
orang tua itu.
“Cucu?”
bingung Hamy.
Junpun
keluar dari rumahnya.
Orang
itu menghampiri Hamy. “Jadi ini cucuku?” tanyanya sambil membelai lembut rambut
Hamy.
“Ya..
dan yang laki-laki adalah cucu laki-lakimu!” ujar Kamjoung sambil mengalihkan
mata.
Orang
itupun menghampiri Jun sambil menggandenga Hamy. “Waaa cucu-cucuku benar-benar
mirip denganku. Lalu dimana Jieun?” Tanya orang itu cepat menghadap Kamjoung.
“Dia…
dia…” lirih Kamjjoung.
“Ibu
sudah meninggal nek.” Sambung Hamy.
“Apa?”
kaget orang itu dengan mata berbelalap. Iapun segera menghampiri Kamjoung.
PLAK…
tamparan keras dipipi Kamjoung untuk kematian Jieun yang tidak bisa ia tahan.
“Maaf…
aku tau aku salah.” Ujar lirih Kamjoung.
“Tentu
saja kau salah! Kau sudah membawa kabur putriku kini kau membunuhnya. Kau… kau
benar-benar lelaki tak terotak! Tak berperasaan! Kau bahkan tidak pantas untuk
menjadi ayah! Kau menyengsarakan anakku!” bentak orang itu.
“Cukup!”
teriak Jieun yang ada didalam tubuh Kimi.
Semua
mataopun tertuju padanya.
“Jieun
bukan mati dibunuh, ia mati karena kelalaiannya sendiri. Ia tidak salah memilih
pasangan! Sebelumnya mereka bahagia dalam keluarganya yang kecil dan sederhana.
Tidak untuk padamu, kau buta akan harta dan tidak melihat apakah anakmu bahagia
hidup denganmu atau tidak. Kaulah yang tidak pantas disebut sebagai ibu!”
bentak Kimi.
Suasanapun
hening sesaat.
“Siapa
kau ini, beraninya berbicara seperti itu dihadapanku. Apa kau selingkuhan
Kamjoung hah?” ujar orang tua itu sambil mengitari Kimi.
“Tidak.
Aku sahabat Jieun, dia selalu mengatakan apapun padaku.” Ujar Jieun.
“Kau
tidak tau apa-apa soal keluargaku. Jadi kau tidak sepantasnya mengaturku! Dasar
perempuan jalan…” bisik orang tua itu.
“Hah?”
kaget Jieun.
Nenek
merekapun membawa Hamy dan Jun paksa untuk tinggal dirumahnya dan meninggalkan
Kamjoung sendiri ditempat itu bersama Kimi. Jieun bahkan tidak pernah
membayangkan jika kondisi akan semakin parah seperti ini. Ia hanya berharap
yang terbaik untuk keluarganya bukan yang terburuk untuk keluarganya.
“Maafkan
aku Kamjoung. Aku tidak bisa mempertahankan anak-anakmu!” ujar Jieun.
“Tidak
kau tidak salah. Ini sudah kewajibanku sebagai seorang suami, jadi jangan pernah
menganggap ini sebagai bebanmu.” Ujar Kamjoung.
“Kau
lelaki yang baik Joung, beruntung Jieun mendapatkanmu.”
“Tidak.
Seharusnya aku yang beruntung bisa mendapatkan seorang perempuan setegar
dirinya. Ia banyak berkorban demi aku dan demi anak-anakku. Ia seorang istri
yang baik dan ibu yang hebat bagiku. Itu yang membuatku selalu mencintainya dan
akan terus seperti itu sampai kapanpun. Aku yakin dia dialam sanapun seperti
itu.” ujar Kamjoung tersenyum.
“Kuatnya
ikatan cinta kita tidak akan bisa terlepas oleh badai apapun Joung. Sejauh
apapun kita berpisah aku percaya aku akan selalu dekat denganmu.” Gumam Jieun
dalam hati sambil menatap senyum Kamjoung.
“Sepertinya
Jieun banyak bercerita padamu yah tentang kami?” Tanya Kamjoung.
“Iya.
Ia berkata kau seorang ayah yang tegar dan tidak pernah mengeluh. Apapun kau
kerjakan meski itu sulit demi orang yang kau sayang bukan?” ujar Jieun.
“Sepertinya
itu terlalu berlebihan.” Ujar senyum Kamjoung.
“Kau
harus mengambil anakmu kembali Joung… bukankah kau mencintai mereka? Merekalah
satu-satunya peninggalan Jieun bukan?” ujar Jieun.
Hari
berlalu cepat. Makan malam hangat yang didamba-dambakan Jieun tak pernah hadir
tapi ia berhasil membuka mata Kamjoung untuk terus berusaha mengambil kembali
anaknya dari tangan ibunya. Waktu perjanjian berakhir. Kimi kembali menjadi
dirinya.
“Satu
kali lagi yah… kumohon…!” ujar Jieun.
“Aku
sudah lelah Ji.” Eluh Kimi.
“Kumohon.
Ibuku mengambil anakku pasksa!” ujar Jieun memohon.
“Huh.”
Eluh Jieun.
Jieun
kembali merasuki tubuh Kimi untuk yang kedua kalinya. Ia berniat membuntuti
Kamjoung kerumah ibunya itu untuk mengambil anaknya. Kamjoung sampai dirumah
besar itu. ia menerobos masuk dengan paksa meski harus berkelahi dengan penjaga
gerbang rumah.
“Hamy!
Jun!” panggil teriak Kamjoung setelah membuka pintu.
“Ayah..”
tangis kedua anaknya menghampirinya.
Mereka
rindukan ayahnya itu meski baru semalam terpisah. Dalam hati mereka hanya ada
sosok ayahnya saja lah yang kini hadir dihidup mereka. Mereka tidak ingin
kehilangan ayahnya setelah kehilangan sang ibu pula. Sekeluarnya sang nenek
terjadi sebuah perdebatan hebat antara sang nenek dan Kamjoung. Kakak Jieun,
Eunjipun keluar untuk membantu neneknya.
“Hentikan
semua!” teriak Jieun dalam tubuh Kimi yang tiba-tiba memasuki rumah itu.
Suasanapun
hening menatap dirinya.
“Apa
kalian tahu arwah Jieun kini tidak tenang karena ulah kalian? Hah?” ujar Jieun.
“Lagi-lagi
kau.” Ujar kesal sang nenek.
“Aku
Jieun!!!! Aku masih didunia ini. Aku merasuki tubuh Kimi untuk bisa bicara
dengan kalian.” Ujar kesal Jieun.
“Mustahil.”
Kaget Kamjoung terbelanga.
“Kalau
kalian tidak percaya, test aku!” ujar Jieun.
Sang
nenekpun mengetesnya dan dalam semua test itu iapun lulus. Mereka semua baru
menyadari bahwa itu memang benar Jieun orang yang dianggap sudah mati selama
ini ternyata masih bisa ada disamping mereka. Betapa senangnya anak-anaknya
mengetahuinya ibunya berada dihadapan mereka saat itu. Jieun mengajukan sebuah
permintaan untuk ibunya agar memaafkan dirinya dan Kamjoung kamudian membiarkan
mereka tinggal dirumah itu tanpa ada lagi konflik.
Meskipun
berat sang nenekpun menyetujui permintaan itu. Ia sesungguhnya masih
mengharapkan sang anak yang ia sayangi itu. Hingga tidak begitu lama dari waktu
itu Kamjoung mengantarkan Kimi untuk kembali kebutiknya, Jieun berkata bahwa ia
tidak bisa hidup dengan mereka semua. Mereka harus merelakan kepergiannya
terutama untuk anak-anaknya.
Diperjalanan
Jieun terhenti melihat seorang lekaki berjas hitam rapih berdiri dihadapannya.
“Ada
apa?” Tanya Kamjoung.
Lelaki
itu membuka kacamata hitamnya dan sekejap waktupun terhenti.
“Jieun
keluar kau!” ujar lelaki itu sambil menjewer teling Jieun dan mengeluarkan
Jieun begitu saja dengan mudah.
“Siapa
kau?” Tanya Jieun.
“Aku
malaikat penjagamu, hey apa kau lupa?” ujar lelaki itu sambil mengetok pelan
kepala Jieun.
Jieun
teringat sesuatu ketika ia menaiki tangga menuju surga ia justru kabur melompat
dari tangga itu ketika melihat penampakan keluarganya dibenaknya.
“Aku
sudah memberikan waktu senang-senangmu terlalu banyak, kini kembalilah kealammu
dan jangan menyusahkanku lagi, dasar bodoh!” ujar lelaki itu.
“Baiklah,
maaf menyusahkanmu tuan malaikat!” ujar Jieun tersenyum.
Iapun
segera mencium kening Kamjoung dan menggandeng lelaki itu kemudian berjalan
riang menuju pintu.
“Kenapa
bocah ini senang?” bingung lelaki itu sambil memakai kembali kaca mata
hitamnya.
Jieun
tersenyum menuju dunianya. Ia pergi dengan damai meninggalkan setitik
kegembiraan dihatinya. Setidaknya ia sudah lega dengan kondisi keluarganya saat
ini. Kehidupan anak-anaknya lebih terjamin disamping neneknya. Kamjoung kembali
menjadi seorang pengusaha sukses hingga berbisnis dengan Kimi. Mereka taak lagi
dijelak-jelekan oleh orang lain dibelakang mereka. Meski beberapa diantaranya
seperti joonmyuk masih menyimpan dendam terhadap mereka.
Dialah
Jieun seorang perempuan tangguh yang akan terus melihat meski maut
menghampirinya. Dialah ibuku…
Tertulis Hamyeon
jeongmeol

Tidak ada komentar:
Posting Komentar